ilmu penyakit

Selasa, 05 Juli 2011
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Banyak penyakit infeksi yang menyertai kehamilan dan persalinan dimana diantaranya adalah Toxoplasmosis, Hepatitis, UTI/ISK, HIV/AIDS dan Tifus Abdominalis dimana semuanya ini merupakan penyakit berbahaya yang harus diwaspadai saat kehamilan dan persalinan pada umumnya. Dengan berbagai macam cara penularan, faktor penularan dan media penularan yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari.Sebagai seorang bidan yang terdidik dan terlatih kita harus bisamemahami dan mengerti tentang kegawadaruratan terhadap penyakit yang menyertai kehamilan tersebut pada ibu hamil , agar bisa diterapkan ke masyarakat jika turun ke dunia kerja dengan maksud mengurangai angka kematian ibu hamil akibat terinfeksi dari penyakityang membahayakan tersebut.
B.Tujuan
Tujuan umum
a.       Mengupayakan derajat kesehatan yang lebih baik.
b.      Menjaga kualitas pemahaman tentang penyakit infeksi yangmenyertai kahamilan
c.       Mampu untuk mengidentifikasi dan intervensi dini terhadap penyakit infeksi yang menyertai kehamilan dan persalinan.
Tujuan khusus
Mengerti apa itu penyakit infeksi yang menyertai kehamilanHIV/AIDS, dan dari materi pelajaran yang ada.






BAB II
TINJAUAN TEORI
1.      Definisi
Definisi HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Bila virus HIV tersebut menjadi tak terkendali dan telah menyerang tubuh dalam jangka waktu lama maka infeksi virus HIV tersebut dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Virus HIV berbahaya bagi tubuh karena menyerang system kekebalan tubuh, sehingga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan virus, bakteri dan jamur yang menyebabkan penyakit infeksi. HIV menyebabkan tubuh menjadi rentan untuk terkena beberapa jenis kanker & infeksi yang biasanya secara normal dapatdilawan oleh kekebalan tubuh misalnya infeksi pneumonia &meningitis.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan. Acquired (Didapat, bukan penyakit keturunan Immune). Sistem kekebalan tubuh Deficiency (Kekurangan Syndrome) Kumpulan gejala-gejala penyakit kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh menyebabkan ODHA( orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.
AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh faktor luar (bukan dibawa sejak lahir ). AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare ).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi (Center for Disease Control and Prevention )
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunologi DeficiencySyndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembangbiakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Ketika kita terkenaVirus HIV kita tidak langsung terkena AIDS.Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan.Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serummaupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.HIV merusak sel darah putih yang berperan penting dalam menjaga kekebalan tubuh. Dengan berkurangnya jumlah sel darahputih yang sehat, kekebalan tubuh akan menurun. Dengan menurunya kekebalan tubuh, penyakit yang ringan untuk orang lain,dapat menimbulkan kematian bagi orang yang terinfeksi HIV AIDS.
Penularan HIV AIDSHIV/ AIDS dapat ditularkan oleh seseorang yang terinfeksi HIVdan penderita AIDS. Kemungkinan terbesar penularan berasal daripengidap HIV masi terlihat sehat. Ada beberapa cara penularan HIV/AIDS diantaranya :a.Hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HIV.Umumnya HIV terdapat pada darah, sperma dan cairan vagina.Bila salah satu dari pasangan yang melakukan hubungan seksualitu terinfeksi HIV, maka virus mematikan ini akan menular melaluiluka kecil yang terjadi saat bersenggama. Berhubungan seksualsatu kali saja dengan orang terinfeksi HIV, fatal akibatnya. Lakilaki atau perempuan, sama resikonya. Hubungan seksual yangdilakukan pada masa menstruasi memperbesar kemungkinanseseorang terinfeksi HIV. Terbukanya pembuluh darah,memudahkan masuknya HIV kedalam tubuh.b.Transfusi darah yang telah tercemar HIV Darah yang mengandung HIV secara otomatis akan mencamaridarah pasien/penerima. Bila hal ini terjadi, pasien secaralangsung terinfeksi HIV.c.Menusuk /menggores tubuh dengan alat yang tercemar HIV. Jarum suntik, alat tindik, jarum tato, atau pisau cukur menjadimedia penularan HIV, bila sebelumnya digunakan oleh pengidapHIV. Virus yang tertinggal pada alat - alat tersebut akan masuk kealiran darah yang memakainya. Karenanya, biasakan memekai jarum suntik, alat tindik, jarum tato atau pisau cukur sekali pakai.d.Dari ibu yang terinfeksi HIV kepada janin yang dikandungnya.Ibu yang mengidap HIV, menularkan virus melalui plasentaselama masa kehamilan. Penularan bisa juga terjadi melaluipelukaan pada saat persalinan.Resiko penularan dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada bayiyang di kandungnya pada masa persalinan biasanya terjadikarena : adanya tekanan pada plasenta sehingga terjadi sedikitpencampuran antara darah ibu dengan darah bayi ( lebih seringterjadi jika plasenta mengalami radang/ infeksi ), bayi terpapardarah & lendir serviks pada saat melewati jalan lahir atau karenabayi kemungkinan terinfeksi akibat menelan darah & lendirserviks pada saat resusitasi ( saat kehamilan/ barier plasenta10%, proses melahirkan 60%, dan pemberian ASI 30%).

2.      Etiologi
Seperti halnya penanggulangan penyakit pada umumnya, usahapertama yang selalu harus diusahakan adalah mencari penyebabresiko transmisi HIV antara ibu dan anak. Faktor-faktor resiko yang mempengaruhi transmisi HIV antara ibu dan anak:
a)      Faktor ibu
b)      Faktor kebiasaan
c)      Faktor obstetri
d)     Faktor viral
Status kekebalan:Risiko MTCT meningkat dengan tingkat keparahan defisiensiimun. Perempuan dengan jumlah CD4 rendah (<200> partikelviral 50.000 atau lebih / ml)
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.
3.      Tanda dan Gejala Infeksi HIV/ AIDS
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1– 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral. Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk meningitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal. Klasifikasi yang dijumpai berdasarkan keadaan klinik pada saat pemeriksaan antara lain:
a)      Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala. Diketahui oleh pemeriksa, kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.
b)      Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.
c)      Infeksi akut : flu selama 3-6 minggu setelah infeksi, panas danrasa lemah selama 1-2 minggu. Bisa disertai ataupun tidakgejala-gejala seperti: bisul dengan bercak kemerahan (biasanyapada tubuh bagian atas) dan tidak gatal, Sakit kepala, sakit padaotot-otot, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar, diare(mencret), mual-mual, maupun muntah-muntah
d)     Infeksi kronik : tidak menunjukkan gejala. Mulai 3-6 minggusetelah infeksi sampai 10 tahun. Sistem imun berangsur-angsur turun, sampai sel T CD4 turundibawah 200/ml dan penderita masuk dalam fase AIDS.
Gejala-gejala AIDS diantaranya :
1.      Selalu merasa lelah,
2.      Pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha,
3.      Panas yang berlangsung lebih dari 10 hari,
4.      Keringat malam,
5.      Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya,
6.      Bercak keunguan pada kulit yang tidak hilang-hilang,
7.      Pernafasanpendek,
8.      Diare berat yang berlangsung lama,
9.      Infeksi jamur candida pada mulut, tenggorokan, atau vagina dan mudahmemar/perdarahan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya
4.      Patofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans (sel imun) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus (HIV) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. Dengan menurunya jumlah sel T4, maka sistem imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi. Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi (herpes zoster dan jamur oportunistik) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.
5.      Diagnosis
6.      Prevalensi
7.      Penatalaksanaan
8.      Pencegahan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan : Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan poasangan yang tidak terinfeksi. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya. Mencegah infeksi ke janin / bayi baru lahir.
Diagnosis penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan melalui pemeriksaan serologic dengan metode ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) dan Western Born Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu :
a. Pengendalian Infeksi Opurtunistik Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien lilingkungan perawatan kritis.
b. Terapi AZT (Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <3> 500 mm3.
c. Terapi Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas sistem imun dengan menghambat replikasi virus/ memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah : Didanosine, Ribavirin, Diedoxycytidine, Recombinant CD 4 dapat larut.
d. Vaksin dan Rekonstruksi Virus Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
e. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat, hindari stress, gizi yang kurang, alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
f. Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
6. HIV / AIDS dalam Kehamilan dan Persalinan Selama kehamilan
Banyak perubahan sistemik yang terjadi pada tubuh ibu. Hal ini tentunya akan memperberat kerja organ – organ dalam tubuh. Apalagi apabila ibu tersebut mengidap HIV positif. Tentunya akan memperparah kondisi penyakit dan kehamilannya. Transmisi vertical virus MTCT) AIDS dari ibu kepada janinnya (mother to child transmission telah banyak terbukti, akan tetapi belum jelas diketahui kapan transmisi perinatal tersebut terjadi. Penelitian di AS dan Eropa menunjukkan bahwa risiko transmisi perinatal pada ibu hamil adalah 20 - 40%. Transmisi dapat melalui plasenta, perlukaan dalam proses persalinan atau melalui ASI. Walaupun demikian WHO masih menganjurkan agar ibu dengan HIV (+) tetap menyusui bayinya mengingat manfaat ASI yang lebih besar dibandingkan dengan resiko penularannya. Jika seorang wanita tertular HIV, maka risiko menularkan ke bayi akan rendah jika kondisi tubuh di pertahankan sesehat mungkin. Faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko penularan adalah: merokok, narkoba, kekurangan vitamin A, kurang gizi, infeksi seperti STD, menyusui dll. Transmisi perinatal pada plasenta adalah sebagai berikut :
a. Mekanisme transmisi virus perinatal :
1) Invasi langsung pada trofoblas dan vili chorialis.
2) Masuknya limfosit maternal yang terinfeksi kedalam sirkulasi janin.
3) Infeksi oleh sel dengan reseptor CD4 dalam vili chorialis dan sel endothel villi.
b. Peran plasenta dalam proses transmisi virus
1) Pemeriksaan invitro menunjukkan bahwa HIV-1 dapat melakukan infeksi pada trofoblas manusia dan sel Hofbauer pada setiap usia kehamilan
2) Tidak jelas apakah infeksi HIV-1 pada plasenta dapat memfasilitasi infeksi HIV-1 pada janin atau justru dapat mencegah infeksi terhadap janin dengan melakukan tindakan isolasi terhadap virus.
c. Kecepatan penularan HIV dari ibu ke janin, tergantung sejumlah faktor :
1) Faktor yang meningkatkan penularan
2) Ibu menderita AIDS
3) CD4 rendah ( <> 55.000 copi/mL. Pada wanita hamil, terapi harus lebih agresif oleh karena penurunan kadar RNA adalah penting bagi penurunan transmisi perinatal tanpa memperhitungkan CD4+ atau kadar HIV-RNA plasma.
Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan.
Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik. Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunistiknya dalam kehamilan merupakan masalah, karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan.
Zidovudine (juga di kenal dengan ZDV, AZT atau Retrovir merupakan obat pertama yang di lisensi untuk mengobati HIV. Saat ini penggunannya dikombinasikan dengan obat anti-virus lainnya dan sering dipergunakan untuk mencegah penularan ke bayi. ZDV harus diberikan sejak trimester II dan dilanjutkan terus selama kehamilan dan persalinan. Efek samping berupa mual, muntah dan sel darah merah dan putih yang menurun. Jika tidak diambil langkah -langkah pencegahan, risiko penularan HIV setelah kelahiran diperkirakan 10-20%. Kemungkinan penularan lebih besar lagi jika bayi terekspos darah atau cairan yang ada HIVnya. Penolong persalinan harus menghindarkan memecahkan ketuban, episiotomi, serta prosedur - prosedur lain yang mengekspos bayi dengan darah atau cairan darah ibu. Penurunan resiko penularan ketika kelahiran dengan seksio sesaria. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure. Oleh karena itu dianjurkan untuk melaksanakan upaya pencegahan terhadap penularan infeksi bagi petugas kamar bersalin sebagai berikut:
1. Gunakan pakaian, sarung tangan dan masker yang kedap air dalam menolong persalinan.
2.Gunakan sarung tangan saat menolong bayi.
3. Cucilah tangan setelah selesai menolong penderita AIDS.
4. Gunakan pelindung mata (kacamata).
5. Peganglah plasenta dengan sarung tangan dan beri label sebagai barang infeksius
6. Jangan menggunakan penghisap lendir bayi melalui mulut.
7. Bila dicurigai adanya kontaminasi, lakukan konseling dan periksa antibody terhadap HIV serta dapatkan AZT sebagai profilaksis Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita, lochea, luka episiotomi ataupun luka SC.
Suatu penelitian tahun 1994 oleh National Institutes of Health (AS) mendapatkan bahwa dengan pemberian ZDV pada bumil yang HIV-positif saat hamil dan pada bayinya (dalam 8-12 jam setelah lahir) akan menurunkan risiko penularan kebayi sebesar 66 persen. Bayi harus diberikan ZDV selama 6 minggu pertama kehidupannya. Delapan persen bayi masih akan terkena infeksi jika ibunya diobati dengan ZDV, dibandingkan 25 persen jika tidak diobati. Tidak ada gejala efek samping yang berarti pada bayi selain adanya anemia ringan yang akan segera membaik ketika pemberian obat dihentikan.
Pemberian obat antiretroviralProtokol pemberian obat antiretroviral (ARV) untuk ibu hamil HIVpositif mengikuti Pedoman Nasional Pengobatan ARV diIndonesia. Pemerintah menyediakan ARV untuk ibu hamil HIVpositif secara gratis untuk mengurangi risiko penularan HIV kebayi. Pemerintah juga menyediakan ARV secara gratis untuktujuan pengobatan jangka panjang jika ibu atau anaknya telahmembutuhkan ARV untuk mempertahankan kualitas fisiknya. Terapi antiretroviral (ART) berarti mengobati infeksi HIV denganbeberapa obat. Karena HIV adalah retrovirus, obat ini biasadisebut sebagai obat antiretroviral (ARV). ARV tidak membunuhvirus itu. Namun, ART dapat memperlambat pertumbuhan virus.Waktu pertumbuhan virus diperlambat, begitu juga penyakit HIV.Ibu HIV-positif dapat mengurangi risiko bayinya tertular dengan:pakai obat antiretroviral (ARV) jaga proses kelahiran tetap singkatwaktunya hindari menyusuiPenggunaan ARV: Risiko penularan sangat rendah bila terapi ARV(ART) dipakai. Angka penularan hanya 12 persen bila ibumemakai ART. Angka ini kurang-lebih 4 persen bila ibu memakaiAZT selama enam bulan terahkir kehamilannya dan bayinyadiberikan AZT selama enam minggu pertama hidupnya.
Intervensi kebiasaan
Mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan, dan laki-laki,usia produktif adalah metode terbaik untuk mengurangikemungkinan MTCT.
Infeksi HIV baru selama kehamilan (dan menyusui) dapatmeningkatkan viraemia HIV yang akan meningkatkan risikoMTCT Wanita hamil harus disarankan aktivits seksual yanglebih aman, termasuk konsisten pada penggunaan kondom.
Pengobatan yang efektif dari setiap STD (Sexual Transmitted Disease) dan infeksi kelamin lainnya akanmengurangi kemungkinan infeksi plasenta (Chorio-amnionitis) dan mengurangi risiko MTCT.2)Intervensi TherapeuticNutrisi suplemen:Suplemen gizi (besi, folat, multivitamin dan vitamin A) harussecara rutin diberikan dari diagnosis awal kehamilan sampaipersalinan. Suplemen ini telah terbukti menghasilkanpeningkatan kualitas kehamilan, termasuk mengurangi insidenmasih lahir, lahir prematur dan berat lahir rendah.3)
Intervensi Kebidanan
Vaginal higiene: MTCT mungkin terjadi selama transmisikarena adanya darah dan lendir di jalan lahir. Penelitiantelah menunjukkan bahwa pembersihan vagina denganlarutan antiseptik berhubungan dengan pengurangan MTCTdan perbaikan hasil perinatal
Artificial rupture of membranes (AROM): Pecah ketubanselama lebih dari 4 jam sebelum pengiriman dikaitkandengan peningkatan MTCT. AROM rutin harus dihindaridalam perempuan HIV positif atau negatif. AROM hanyaboleh dilakukan jika ada indikasi spesifik.
Trauma: Janin Trauma janin harus dihindari. Pengisapan kuat pada bayitidak dianjurkan karena hal ini dapat menyebabkan traumapada selaput lendir. Pengisapan hanya dilakukan denganindikasi cairan ketuban mekoneal. Hal ini di tujukan untukmembuang cairan ibu dari bayi.IbuEpisiotomi sebaiknya dihindari. Episiotomi seharusnyahanya dilakukan untuk indikasi obstetri, misalnya pada kala2 yang memanjang.

Mode transmisiMeskipun operasi caesar efektif telah terbukti untukmengurangi risiko MTCT, tapi adanya kendala biaya mahaldan tidak praktis dengan adanya peningkatan risikokomplikasi pasca operasi. Maka beberapa rumah sakitmelakukan persalinan pervaginam dengan beberapa halyang harus diperhatikan dan direncanakan sebelumnya,yaitu
Ibu sudah melakukan terapi ARV dan berbagaipengobatan serta profilaksis infeksi.
Hindari amniotomi
Antibiotik profilaksis pada wanita dengan jumlah CD4kurang dari 200/ml; dimana terdapat tanda-tanda AIDSatau defisiensi kekebalan yang parah atau ketubanpecah selama lebih dari 4 jam
Hindari episiotomi, tindakan invasif dan prosedur lain
Perhatikan teknik aseptik seluruh tenaga kerja.
Gunakan Chlorhexidine 0,25% untuk vulva dan vaginatoilet saat melakukan pemeriksaan digital internal.

0 komentar: